Jumat, 29 Mei 2020

Ketupat


Sabtu, 29 Mei 2020
Ada wacana  muncul yang berlawanan,  Kupat bukan  yang menciptakan Sunan Kalijaga.Walahu alam.
(Sumber: Damar Sasongko ,15 Juni 2018)




SEJARAH KETUPAT

Keberadaan Kupat telah ada jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga lahir dan sudah menjadi sarana untuk melakukan upacara keagamaan Syiwa Buddha di Jawa maupun di Bali. Pelurusan ini penting artinya agar masyarakat bisa melihat sejarah dengan kacamata yang obyektif, tidak terkungkung oleh informasi bias demi sekedar memuaskan satu kepentingan tertentu dengan mengaburkan sejarah itu sendiri.

Kupat, demikian nama asli makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus janur kuning tersebut, dalam bahasa Jawa Kawi berarti bungkus. Tidak ada arti yang lain. Ini bisa dipahami ketika melihat bentuk dari penganan Kupat sendiri yang berbahan beras lalu dibungkus dengan menggunakan janur kuning yang dianyam dengan apik, untuk kemudian dimasak hingga matang. Kata Kupat bisa dilihat dalam banyak rontal Jawa Kuno, salah satunya kutipan Rontal Subhadrawiwāha : 27:8 di bawah ini :

….Hetunya n pangutus huminyjêmi kitā-KUPAT-a yaśa niking prayojana…

Terjemahan :
"…..Disebabkan oleh perintah untuk mendatangi, maka dirimu ber-BUNGKUS-lah agar supaya tercapai tujuan…"

Rontal Subhadrawiwāha sendiri diperkirakan dibuat pada masa Majapahit

Di Bali, nama Kupat diucapkan menjadi Tipat. Dan di Bali terdapat satu catatan yang bisa dijadikan rujukan kuat bahwa Tipat atau Kupat sudah menjadi bagian ritual masyarakat Bali jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga lahir ke dunia pada sekitar 1450 Masehi. Dalam Rontal Tabuh Rah Pêngangon yang tersimpan di Desa Kapal, Mengwi, Badung, Bali, dikisahkan. Ketika Prabhu Asṭasura Ratnabhumi Bantên menduduki tahta Kerajaan Bedahulu menggantikan kakaknya, Śri Walajaya Kêrtaningrat yang meninggal pada Syaka Warsa 1259 (1337 M), beliau lantas mengangkat seorang patih bernama Ki Kêbo Taruna atau Ki Kêbo Iwa. Setahun kemudian, Prabhu Asṭasura Ratnabhumi Bantên mengutus Ki Kêbo Iwa untuk memperbaiki tīrtha atau tempat suci di Kahyangan Puruṣada yang berada di Desa Kapal.

Berangkatlah Ki Kêbo Iwa diiringi oleh Pasêk Gelgel, Pasêk Tangkas, Pasêk Bêndesa dan Pasêk Gaduh menuju Kahyangan Puruṣada di Desa Kapal dengan terlebih dahulu menuju Desa Nyanyi untuk mengambil batu bata sebagai bahan untuk perbaikan. Pembangunan dimulai pada Syaka Warsa 1260 atau 1338 M.

Usai perbaikan dilakukan, mendadak saja Desa Kapal terkena paceklik hebat. Tergerak oleh kegelisahan, Ki Kêbo Iwa lantas bermohon jalan keluar kepada Sanghyang Agung dengan melakukan yoga semadhi di Kahyangan Puruṣada yang baru selesai diperbaiki. Tidak sia-sia permohonan yang dilakukan, Ki Kêbo Iwa lantas mendapatkan pawisik dari Sanghyang Śiwa Paśupati agar segera melaksanakan Aci Rah Pêngangon atau Aci Rare Angon dengan sarana utama mempergunakan Tipat-Bantal sebagai lambang Puruṣa (Kesadaran Semesta) dan Pradhāna (Bahan Cikal Bakal Semesta). Puruṣa adalah lambang dari Bapa Semesta sedangkan Pradhāna adalah lambang dari Ibu Semesta. Dari penyatuan Puruṣa dan Pradhāna maka lahirlah semesta raya ini. Tipat-Bantal sendiri adalah jenis panganan dari nasi yang dibungkus janur kuning dengan bentuknya yang berbeda. Tipat berbentuk segi empat sedangkan Bantal berbentul bulat panjang, Tipat adalah simbol dari Pradhāna, sedangkan Bantal adalah simbol dari Puruṣa.

Usai mendapat pawisik, akhirnya dilaksanakanlah Aci Rah Pêngangon di Desa Kapal. Begitu upacara usai dilaksanakan maka terbukti paceklik segera menghilang, tidak lagi datang menyambangi. Dan upacara tersebut masih tetap dilakukan hingga hari ini. Itu artinya upacara tersebut sudah dijalankan sepanjang 700 tahunan, dilaksanakan pada setiap Sasih Kapat kalender Syaka Bali, atau sekitar bulan September – Oktober, dengan tetap mempergunakan sarana Tipat-Bantal.

Pelaksanaan Aci Rah Pêngangon pada 700 tahun yang lalu, atau 112 tahun sebelum Sunan Kalijaga lahir cukup menjadi bukti bahwa Kupat atau Tipat atau Ketupat sudah ada jauh-jauh hari sebelum Sunan Kalijaga menyebarkan Islam di Jawa. Tidak menutup kemungkinan, budaya kuliner Tipat diambil oleh masyarakat Bali dari budaya Jawa mengingat hubungan Jawa-Bali pada masa Jawa Kuno sangat erat dan tidak bisa dipisahkan. Hingga hari ini, Tipat masih menjadi sarana penting untuk melakukan upacara keagamaan di Bali, tidak hanya dalam pelaksanaan Aci Rah Pêngangon saja. Dengan kata lain, Tipat masih dipergunakan dalam fungsi yang sama seperti dahulu kala sebagaimana pernah berlaku di Jawa sebelum Jawa beralih menjadi Islam. Pada kelanjutannya, Kupat di Jawa diadopsi oleh Sunan Kalijaga sebagai sarana syi’ar Islam dan dimunculkan ketika tujuh hari usai 1 Syawal atau usai Hari Raya Idul Fitri.

Oleh karenanya wacana yang dengan berani memaparkan bahwa Kupat adalah ciptaan Sunan Kalijaga, tentu tidak bisa dibenarkan. Sunan Kalijaga hanya mengadopsi dan mengalihfungsikan Kupat dari fungsi awalnya sebagai sarana upacara Syiwa Buddha pada masa Jawa Kuno menjadi media syi’ar Islam untuk berbagi maaf selepas tujuh hari usai 1 Syawal atau Hari Raya Idul.

Sabtu, 09 Mei 2020

Theu Fu Shui, sekilas ngetrip ke pangkal pinang

Theu Fu Sui Terkesan seperti menu yang berasal dari negeri bambu kuning, ternyata segelas susu kedele yang disajikan panas. The Fu Sui dinikmati dengan cemilan otak-otak yang disajikan dengan berbagai rasa. Ada otak-otak yang disajikan seperti bakso bakar, ada yang berbentuk tabung, ada yang Cuma diiris berbentuk kubus, bahkan ada yang dibungkus dengan daun pisang dan dibakar, yang jelas semua bahan dasarnya dari ikan. Semua disajikan sekali suap, agar masuk mulut sekaligus. “Ini apa Tan? Kok seperti pepes teri dibungkus kecil-kecil dan dibakar? Tanya bidadari saya yang sering dipanggil dengan Kakak Prayu (saya suka dengan sebutan ini untuk anak perempuan saya, yang kami beri nama Prayu,,,biar ayu hati dan parasnya bak ratu hahaha). “Itu otak-otak bakar, kakak Prayu, “ jawab Om Anto mewakili istrinya Tante Reny. “Nanti kalau mau otak-otak dengan berbagai rasa, besok ke rumah makan khusus saja ya,”kata Tante Reny. Disepanjang jalan yang kami lalui menuju tempat nongkrong kali ini, tercium bau hmm,,, makanan khas dengan menu utama otak-otak. Mata saya hampir tidak berkedip terus menembus keluar kaca jendela mobil, seakan takut kehilangan pemandangan yang baru ini. Wow ternyata ,,, ayah,,, Kakak Prayu juga asyik membuang pandang, seperti mata elang yang mampu menerobos gelapnya malam, saya kok alih profesi jadi peramal yang mencoba menebak mata hati orang. Kebisuan ini terkuak dengan teriakan kecil dari Si Cantik Alya, “Kakak Prayu,,, Budhe,,,Pakdhe,,, sudah sampai nhi,,, makan,,,makan,,,makan,,, mau,,,mau,,mau,,,”. Benar juga mobil sudah terparkir di pinggir jalan dekat dengan tenda hijau dengan lampu agak sedikit remang. “Wow HIK (hidangan istimewa kampung khas solo),”gumam saya. Kami dipersilahkan masuk oleh seorang laki-laki seumuran anak saya, bak sales promotion boy. Sebegitunya yaaa. Bedanya dengan pakaian seadanya tapi rapi dan bersih, tidak berkostum a’la pramu saji di resto-resto. Saya mengira HIK ternyata,,, bukan,,, hanya nuansanya saja,,,sinar lampu temaram bak cafe di ibukota,,, tempat duduk dengan dekorasi beragam. Melingkar dengan meja bundar terbuat dari plastik. Persegi panjang dengan kursi kayu panjang berhadapan. Mirip bujur sangkar dengan meja kotak terbuat dari palstik dan pelanggan duduk mengitari meja. “Pesen apa Budhe? Minumnya apa Kakak Prayu?”, tanya Tante Reny. “Otak-otak bermacam rasa kita pesen saja mah, dan minum andalan juga kita pesan”, kata Om Anto. Selepas mata memandang terlihat orang-orang berkantong tebal yang mulai memenuhi lapak-lapak pinggir jalan. “Wow,,,fortuner merapat,,,daaan berjajar deretan mobil yang lumayan mengempiskan kocek,”decak kagum mulai menghampiri dada ini. Sabaaar ,,,semua itu adalah fana, dua sisi dari segumpal darah di tubuh saya mulai berebut sebuah kebenaran. “Bund,,,mau nambah pesanan apalagi, ditunggu Tante Reny,” sapa lembut bidadari saya. Coretan tangan Tante Reny sudah sangat indah,,, alias semua sudah dipesan. Template masih saya pelototi, seakan ingin mencari sesuatu yang masih tersisa. “Apaan sih bunda, sebegitunya melihat menu yang akan dipesan,”suara nyaring dari bibir bidadari cantik disamping kiri saya seketika menghentikan penjelajahan ini. “Assalamualaikum,,,silahkan ibu,,,silahkan bapak,,,silahkan kakak,,,”, sapa pramusaji (enggak apa-apa saya pakai sebutan a”la restoran, karena memang berpakaian bersih dan sopan hahaha)sambil menghidangkan pesananan minuman kami. Hitungan menit pesanan terhampar di depan kami. Minuman hangat,,, puanas kalik,,,siap berpindah ke alam lain, sedikit demi sedikit lama-lama mejadi habis. Kenikmatan yang tiada duanya, mencicipi susu kedelai dengan harga yang sangat mahal. Harus menyeberang laut. “Kalau hanya seperti ini,,,di desaku mah,,, buanyak buanget. Bahkan asli. Bisa ambil sendiri dari produsennya. Boyolali penghasil susu nomor wahid seindonesia to”, batin saya sambil senyum-senyum sendiri. “Assalamualaikum, permisi, sialhkan,,,”, berikut datang otak-otak bakar. Pedagang ini mengagumkan. Saya begitu kagum dan mengacungi dengan dua jempol (enggak berani kalau dengan empat jempol, takuut) dengan para pramusajinya. Betapa tidak, setiap kali menyajikan pesanan dari para pelanggan, setiap kali itu juga ia mengucapkan salam dan terimakasih. Orang jawa yang terkenal dengan keluhuran budi dan sopan-santunnya masih tertinggal jauh dengan kota yang pernah dijuluki The Cyber City oleh mantan walikota Zulkarnain Karim kisaran tahun dua ribu tiga ini. “Yang ini kayaknya enah nhi, ayo nambah,, siapa mau? Siapa mau?”, kata Om Anto sambil mengibas-ibaskan tangan di depan mulutnya, bak penjual sate ayam hahaha, nampaknya makanan yang disantap terlalu panas. Memang otak-otak paling nikmat kalau disantap ketika masih berasa panas. Luar biasa. Entah berapa butir yang melewati tenggorokan saya, yang lain kayaknya sama tuuu. “Berapa bund yang sudah beralih ke perut kita?”tanya ayah seperti nya pertanyaan juga untuk diri ayah, saya hanya menaikkan pundak, tanda mengiyakan. Binar mata si cantik Alya mulai kehilangan sinarnya, mengantuk nhi bocah. Daaaan jatuhlah dibelai dada sang mama. Jarum panjang jam di tangan saya menunjuk ke angka sebelas. Wow sudah semakin larut nampaknya, sebentar lagi sang rembulan akan menuju ke peraduan. Digantikan sang fajar. Ayah mulai terdengar menguap, walau pelan seakan tak terdengar. Tante Reny sudah mulai kepayahan dengan dua krucilnya, walaupun yang satu masih digua sang mama. Suara saya,,, suara Om Anto tinggal patah-patah. Sang juara begadang tetap Kakak Prayu, yang tetap assyik dengan androidnya dengan berbagai unduhannya. “Okey,,, kita lanjutkan besok malam lagi, Kakak Prayu? Kita pulang, istirahat dulu. Biar besok pagi kembali segar”, kata Om Antok sambil melambaikan tangan ke arah pedagangnya. Bill berpindah ke tangan Om Anto lengkap dengan jumlah makanan yang sudah kami santap dan jumlah uang yang harus dibayar, lembaran ratusan ribu sebagai gantinya, diterima pemilik The Fu Sui. Jalanan yang sudah mulai sedikit dari para pejalan, ditambah hawa dingin yang dikeluarkan oleh air condition, serta mata kami yang sudah tidak bisa diajak kompromi membuat perjalanan pulang bak melewati tanah pemakaman, sepiii. Hanya sesekali terlihat sinar dari android Kakak Prayu yang masih setia chating dengan teman-temannya. Hmmm paling ya kabar-kabari kalau diirinya sedang liburan ke kota dengan julukan The Victory of City.